Jakarta - Seorang perempuan berbusana kantoran berfoto
di depan sebuah lukisan berukuran raksasa. Bukan sembarang lukisan,
karena itu adalah karya Raden Saleh tahun 1867 berjudul 'Pejabat Belanda
di Yogyakarta'. Lukisan itu memperlihatkan sosok pria Belanda berdahi
botak, berkumis tebal, serius dan berwibawa dalam busana bangsawan.
Foto
beraura mistis dan magis itu memang sedang dipamerkan di Galeri
Nasional, Jakarta. Aroma masalalu sangat kental mewarnai pameran besar
bertajuk 'Manifesto 2012: Orde dan Konflik' itu. Lukisan Raden Saleh
dikeluarkan dari tempat penyimpanannya bersama lebih dari 150 karya dari
seniman-seniman lainnya, dan tak hanya lukisan, tapi juga patung,
grafis, gambar, objek, video, fotografi hingga instalasi.
Sebagian
besar dari karya-karya itu memang berasal dari masa lalu. Karya-karya
itu sebelumnya pernah ditampilkan dalam pameran-pameran penting.
'Manifesto 2012' yang dibuka Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari
Elka Pangestu, Kamis (26/4/2012) malam dimaksudkan sebagai retrospeksi
atas tonggak-tonggak karya dalam khasanah seni rupa di Indonesia sejak
zaman 'mooi indie' hingga era "OK Video".
Lewat pameran tersebut,
masyarakat bisa menyaksikan kembali lukisan-lukisan terkenal dari S.
Sudjojono, Affandi, dan Basuki Abdullah. Menyaksikan pameran itu kita
jadi tahu, atau diingatkan kembali, bahwa misalnya gambar penyair
Chairil Anwar yang sangat ikonik itu (kepala miring, rambut belah
pinggir, menyulut rokok) adalah lukisan Gusti Solichin tahun 1955. Atau,
bahwa salah satu mantan Gubernur Jakarta, Henk Ngantung adalah seorang
pelukis.
Setiap dekade terwakili dalam pameran yang digelar
hingga 10 Mei 2012 itu. Misalnya, dari dekade 80-an kita bisa
menyaksikan lukisan Dede Eri Supria, 'Berangkat Kerja'. Sedangkan dari
era 2000-an tampak antara lain lukisan 'Demit 2000'-nya Djoko Pekik.
Masih ingat karya provokatif Hardi yang menggambarkan sosok dirinya
dalam baju jenderal, berjudul 'Presiden RI Th 2001 Suhardi'? Karya cetak
saring di atas kertas produksi 1979 itu bisa Anda pelajari lagi.
Dari
khasanah instalasi dimunculkan kembali antara lain 'Learning to Queen
Up to The Ants' karya Krisna Murti tahun 1996 yang menampilkan sebarisan
kuda kayu sedang menonton TV. Semua karya yang dipamerkan tersebut
adalah koleksi negara yang tersimpan di berbagai lembaga seni rupa dan
permuseuman utama di Jakarta. Kurasi dilakukan oleh Rizki A. Zaelani dan
Ade Darmawan.
Dalam catatan kuratorial mereka, Rizki dan Ade
mengatakan, pameran 'Manifesto 2012' hendak menunjukkan karya-karya
sejarah yang dikerjakan para seniman di masa dulu hingga transformasi
gagasan-gagasan di dalamnya yang bisa kita lihat pada karya-karya di
masa kini.
"Pameran ini menampilkan karya-karya historik yang
kini menjadi bagian dari koleksi negara dan juga karya-karya yang lebih
baru yang dikerjakan generasi seniman yang lebih muda. Intinya, ingin
mengambil pelajaran tentang risalah orde dan konflik melalui gagasan dan
ekspresi karya-karya seni rupa," papar mereka.
Ditambahkan, tema
'Orde dan Konflik' diajukan sebagai jalan untuk menemukan dan memahami
situasi masyarakat kita kini yang seakan terus dirundung pertentangan
dan konflik perbedaan. Pameran juga disertai dengan sesi diskusi yang
akan digelar di Ruang Seminar Galeri Nasional pada 8 Mei pukul 10.00
WIB. detik.com
Jumat, 11 Mei 2012
Ketika Seni Rupa dan Desain Bertemu di Kaleng Kerupuk
Jakarta - Kaleng-kaleng kerupuk tiba-tiba "mejeng" di
salah satu lorong bagian belakang lantai dasar Hotel Grandkemang,
Jakarta. Benda-benda itu tampak anggun di atas papan-papan bertiang
tinggi, berkelompok dalam beberapa bagian terpisah. Ada yang kosong, ada
pula yang benar-benar ada kerupuknya.
Yang jelas, semua kaleng yang mejeng itu sudah tak polos lagi. Di sisi-sisinya telah dilukis, atau dihias dengan gambar-gambar potret diri. Seniman Ayang Kalake memanfaatkan dinding-dinding kaleng kerupuk itu sebagai kanvas ataupun media untuk mencetak gambar.
Karya bertajuk 'Kaleng Kerupuk' itu memang tidak kebetulan berada di situ. Pemandangan tersebut merupakan bagian dari gelaran Indonesian Cotemporary Art and Desaign (Icad) 2012 yang akan berlangsung hingga 15 Juni. Tak kurang dari 37 seniman ikut ambil bagian dalam pameran tahunan yang telah memasuki perhelatan ke-3 itu.
Ada sejumlah kemajuan, antara lain dari segi jumlah seniman yang tampil, yang melonjak dua kali lipat lebih dibandingkan tahun lalu. Tahun ini mengusung tema 'GEN i Us', Icad masih setia dengan konsepnya mempertemukan dunia seni rupa dengan desain, industri hotel, teknologi dan hiburan.
Tidak semuanya merupakan karya baru, memang, yang hadir dalam Icad kali ini. Instalasi berjudul 'Education' karya perancang busana Oscar Lawalata misalnya, sebelumnya telah tampil di pameran 'Dysfashional' di Galeri Nasional, Mei tahun lalu. Dalam instalasi ini, Oscar menata kursi-kursi layaknya sebuah ruang kelas. Namun, kursi-kursi kayu mungil itu telah dibungkus dengan aneka kain batik, tenun dan ikat.
Karya-karya yang tampil di Icad 2012 dipajang dari kolam di depan hotel, lobi, lorong belakang lantai dasar, hingga sebagian lantai dua. Perupa Hanafi menampilkan instalasi ukuran besar yang terbentang di depan lobi pintu masuk samping. Karya berjudul 'Original:Fake' itu menampilkan cetak sidik jari yang dihamparkan dalam sebidang plat balok persegi panjang.
Berdampingan dengan itu adalah 'Constellation Neverland' karya Adi Panuntun, sebuah instalasi dome yang didalamnya terdapat video mapping. Memasuki dome itu, kita berasa masuk ke dunia lain, sebuah negeri bersalju yang mungkin menjadi obsesi dan fantasi bagi warga dari negeri yang hanya mengenal musim hujan dan kemarau.
Adi Panuntun bukan nama baru di pergelaran Icad. Tahun lalu ia juga memamerkan karyanya. Hardiman Radjab tahun ini juga muncul kembali dengan ciri khasnya yang memanfaatkan benda-benda sekitar yang familiar. Kali ini, ia menampilkan serangkaian karyanya lewat koper. Benda yang biasa dipakai untuk bepergian itu, di tangan Hardiman berubah menjadi metafora yang menyindir situasi sosial-politik aktual negeri ini.
Mempertemukan seni rupa dengan desain memang bukan hal baru dalam pameran seni rupa di Tanah Air. Bahkan, kecenderungan itu memang telah menjadi tren beberapa tahun belakangan. Yang beda dari Icad, pameran tersebut hadir di hotel, dan bukan galeri seni, sehingga memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menjangkau dan ditengok publik yang lebih luas. detik.com
Yang jelas, semua kaleng yang mejeng itu sudah tak polos lagi. Di sisi-sisinya telah dilukis, atau dihias dengan gambar-gambar potret diri. Seniman Ayang Kalake memanfaatkan dinding-dinding kaleng kerupuk itu sebagai kanvas ataupun media untuk mencetak gambar.
Karya bertajuk 'Kaleng Kerupuk' itu memang tidak kebetulan berada di situ. Pemandangan tersebut merupakan bagian dari gelaran Indonesian Cotemporary Art and Desaign (Icad) 2012 yang akan berlangsung hingga 15 Juni. Tak kurang dari 37 seniman ikut ambil bagian dalam pameran tahunan yang telah memasuki perhelatan ke-3 itu.
Ada sejumlah kemajuan, antara lain dari segi jumlah seniman yang tampil, yang melonjak dua kali lipat lebih dibandingkan tahun lalu. Tahun ini mengusung tema 'GEN i Us', Icad masih setia dengan konsepnya mempertemukan dunia seni rupa dengan desain, industri hotel, teknologi dan hiburan.
Tidak semuanya merupakan karya baru, memang, yang hadir dalam Icad kali ini. Instalasi berjudul 'Education' karya perancang busana Oscar Lawalata misalnya, sebelumnya telah tampil di pameran 'Dysfashional' di Galeri Nasional, Mei tahun lalu. Dalam instalasi ini, Oscar menata kursi-kursi layaknya sebuah ruang kelas. Namun, kursi-kursi kayu mungil itu telah dibungkus dengan aneka kain batik, tenun dan ikat.
Karya-karya yang tampil di Icad 2012 dipajang dari kolam di depan hotel, lobi, lorong belakang lantai dasar, hingga sebagian lantai dua. Perupa Hanafi menampilkan instalasi ukuran besar yang terbentang di depan lobi pintu masuk samping. Karya berjudul 'Original:Fake' itu menampilkan cetak sidik jari yang dihamparkan dalam sebidang plat balok persegi panjang.
Berdampingan dengan itu adalah 'Constellation Neverland' karya Adi Panuntun, sebuah instalasi dome yang didalamnya terdapat video mapping. Memasuki dome itu, kita berasa masuk ke dunia lain, sebuah negeri bersalju yang mungkin menjadi obsesi dan fantasi bagi warga dari negeri yang hanya mengenal musim hujan dan kemarau.
Adi Panuntun bukan nama baru di pergelaran Icad. Tahun lalu ia juga memamerkan karyanya. Hardiman Radjab tahun ini juga muncul kembali dengan ciri khasnya yang memanfaatkan benda-benda sekitar yang familiar. Kali ini, ia menampilkan serangkaian karyanya lewat koper. Benda yang biasa dipakai untuk bepergian itu, di tangan Hardiman berubah menjadi metafora yang menyindir situasi sosial-politik aktual negeri ini.
Mempertemukan seni rupa dengan desain memang bukan hal baru dalam pameran seni rupa di Tanah Air. Bahkan, kecenderungan itu memang telah menjadi tren beberapa tahun belakangan. Yang beda dari Icad, pameran tersebut hadir di hotel, dan bukan galeri seni, sehingga memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menjangkau dan ditengok publik yang lebih luas. detik.com
Kamis, 03 Mei 2012
'The Scream' Karya Edvard Munch
Pelelangan Lukisan 'The Scream' Karya Edvard Munch
Rumah lelang Sotheby di New York City menjual lukisan 'The Scream' karya Edvard Munch seharga $119.922.500 atau setara dengan Rp 1,090 triliun. Harga ini mengalahkan rekor harga lukisan termahal sebelumnya, yaitu Picasso berjudul "Nude, Green Leaves, and Bust" seharga $ 106,5 juta atau Rp 976,1 miliar.
Rabu, 02 Mei 2012
Membedakan Batik Tulis, Cap, dan Print
Memiliki batik bukan berarti hanya sekadar punya, tapi juga mengenal.
Bisa dimulai dengan mengetahui, mengidentifikasi, mencari tahu
asal-usulnya, sebagaimana mengenali pasangan kita.
Mari kita berkenalan dengan tiga jenis batik berdasarkan teknik pembuatannya, yakni batik tulis, cap dan print. Bagaimana mengenali perbedaan antara tiga jenis batik?
BATIK TULIS
Tidak banyak yang tahu, kapan tepatnya teknik merintang warna diatas kain dengan menggunakan malam yang kemudian disebut batik pertama kali masuk ke Indonesia.
Konon, teknik ini dibawa oleh anak buah kapal Laksamana Ceng Ho yang bernama Binang Oen. Namun, menurut Robyn Maxwell dalam bukunya “Textiles Of South East Asia: Trdition, Trade And Transformation”, batik mungkin baru berkembang di abad ke XVII.
Semua punya teorinya sendiri. Batik tulis disebut “batik tulis” karena perintang warnanya dibubuhkan dengan cara seperti menulis dengan menggunakan alat bernama canting.
Ciri-ciri:
1) Tidak ada satu pun batik tulis yang kembar, semua dibuat hanya satu setiap lembar. Motif biasanya lebih rumit.
2) Karena dibuat dengan tangan, tidak ada satu pun yang motifnya sempurna. Justru ketidaksempurnaan inilah yang membuat batik tulis sangat manusiawi.
3) Bolak-balik, warna dan motifnya sama. Hal ini dikarenakan, setelah bagian depannya dicanting, bagian baliknya kemudian harus dicanting lagi.
4) Memiliki ukuran yang tidak biasa misalnya 2 x 1,25 meter persegi.
5) Kalau batik kuno, biasanya ada inisial tulisan tangan nama pembatik di ujung kain.
BATIK CAP
Batik cap mulai berkembang di Indonesia setelah meningkatnya permintaan terhadap kain batik di pertengahan abad XIX. Pada saat itu produsen batik mulai mencari cara untuk bisa memproduksi batik dalam jumlah banyak dengan waktu yang singkat.
Dari sini kemudian dibuatlah lempengan besi dengan motif batik untuk membubuhkan malam pada permukaan kain mori. Lempengan besi ini kemudian berfungsi seperti “stempel” yang dicapkan ke atas kain. Sehingga batiknya kemudian disebut sebagai batik cap.
Ciri-ciri:
1) Motifnya cenderung berulang, tidak banyak detail.
2) Bolak-balik warnanya tidak sama, bagian belakang cenderung memiliki warna yang lebih redup atau tipis.
3) Karena sudah masuk produksi masal, kualitas bahan umumnya tidak terlalu baik.
4) Dijual per lembar dengan ukuran standart kain potong.
5) Karena kain mori, biasanya tidak melalui proses perebusan berhari-hari seperti batik tulis.
BATIK PRINT
Atau yang bisa juga disebut sebagai kain tekstil bermotif batik. Muncul di Indonesia tahun 1970-an seiring penetapan batik sebagai pakaian nasional.
Kain tekstil bermotif batik ini awalnya diproduksi oleh industri tekstil lokal, namun karena permintaan yang semakin banyak akhirnya batik print ini juga diproduksi oleh pabrik luar negeri — inilah yang kemudian dikhawatirkan akan mematikan industri kerajinan batik lokal.
Ciri-ciri:
1) Motifnya sangat detail dan rapi, sangat rapi bahkan.
2) Warnanya cerah dan sangat menarik.
3) Bagian belakang berwarna putih, dengan sedikit tembusan-tembusan warna dari bagian mukanya.
4) Harganya sangat murah.
5) Biasanya dijual meteran.
Tidak sulit kan membedakan batik tulis, cap dan print? Hanya butuh latihan. Semakin sering kita bersentuhan dengan kain batik, memakainya dan berdialog dengan pedagang serta pembuatnya, semakin ahli kita mengidentifikasi kain batik.
http://id.she.yahoo.com
Mari kita berkenalan dengan tiga jenis batik berdasarkan teknik pembuatannya, yakni batik tulis, cap dan print. Bagaimana mengenali perbedaan antara tiga jenis batik?
BATIK TULIS
Tidak banyak yang tahu, kapan tepatnya teknik merintang warna diatas kain dengan menggunakan malam yang kemudian disebut batik pertama kali masuk ke Indonesia.
Konon, teknik ini dibawa oleh anak buah kapal Laksamana Ceng Ho yang bernama Binang Oen. Namun, menurut Robyn Maxwell dalam bukunya “Textiles Of South East Asia: Trdition, Trade And Transformation”, batik mungkin baru berkembang di abad ke XVII.
Semua punya teorinya sendiri. Batik tulis disebut “batik tulis” karena perintang warnanya dibubuhkan dengan cara seperti menulis dengan menggunakan alat bernama canting.
Ciri-ciri:
1) Tidak ada satu pun batik tulis yang kembar, semua dibuat hanya satu setiap lembar. Motif biasanya lebih rumit.
2) Karena dibuat dengan tangan, tidak ada satu pun yang motifnya sempurna. Justru ketidaksempurnaan inilah yang membuat batik tulis sangat manusiawi.
3) Bolak-balik, warna dan motifnya sama. Hal ini dikarenakan, setelah bagian depannya dicanting, bagian baliknya kemudian harus dicanting lagi.
4) Memiliki ukuran yang tidak biasa misalnya 2 x 1,25 meter persegi.
5) Kalau batik kuno, biasanya ada inisial tulisan tangan nama pembatik di ujung kain.
BATIK CAP
Batik cap mulai berkembang di Indonesia setelah meningkatnya permintaan terhadap kain batik di pertengahan abad XIX. Pada saat itu produsen batik mulai mencari cara untuk bisa memproduksi batik dalam jumlah banyak dengan waktu yang singkat.
Dari sini kemudian dibuatlah lempengan besi dengan motif batik untuk membubuhkan malam pada permukaan kain mori. Lempengan besi ini kemudian berfungsi seperti “stempel” yang dicapkan ke atas kain. Sehingga batiknya kemudian disebut sebagai batik cap.
Ciri-ciri:
1) Motifnya cenderung berulang, tidak banyak detail.
2) Bolak-balik warnanya tidak sama, bagian belakang cenderung memiliki warna yang lebih redup atau tipis.
3) Karena sudah masuk produksi masal, kualitas bahan umumnya tidak terlalu baik.
4) Dijual per lembar dengan ukuran standart kain potong.
5) Karena kain mori, biasanya tidak melalui proses perebusan berhari-hari seperti batik tulis.
BATIK PRINT
Atau yang bisa juga disebut sebagai kain tekstil bermotif batik. Muncul di Indonesia tahun 1970-an seiring penetapan batik sebagai pakaian nasional.
Kain tekstil bermotif batik ini awalnya diproduksi oleh industri tekstil lokal, namun karena permintaan yang semakin banyak akhirnya batik print ini juga diproduksi oleh pabrik luar negeri — inilah yang kemudian dikhawatirkan akan mematikan industri kerajinan batik lokal.
Ciri-ciri:
1) Motifnya sangat detail dan rapi, sangat rapi bahkan.
2) Warnanya cerah dan sangat menarik.
3) Bagian belakang berwarna putih, dengan sedikit tembusan-tembusan warna dari bagian mukanya.
4) Harganya sangat murah.
5) Biasanya dijual meteran.
Tidak sulit kan membedakan batik tulis, cap dan print? Hanya butuh latihan. Semakin sering kita bersentuhan dengan kain batik, memakainya dan berdialog dengan pedagang serta pembuatnya, semakin ahli kita mengidentifikasi kain batik.
http://id.she.yahoo.com
Selasa, 01 Mei 2012
Apakah Anda Sudah Siap Menikah?
Pernikahan tanpa persiapan mental yang matang amat rawan terhadap
perpisahan. Sebelum melangkah lebih jauh, lebih baik pastikan dulu,
apakah Anda dan pasangan sudah siap mengarungi biduk rumah tangga.
Psikoterapis Tina B. Tessina dalam buku “The Unofficial Guide to Dating
Again” menuliskan beberapa hal yang harus Anda cermati sebelum menikah.
Ini dia!
1. Definisikan komitmen
Anda dan pasangan harus menyadari, pernikahan bukanlah ikatan komitmen selama satu-dua bulan saja. Pernikahan adalah perjanjian antara Anda, pasangan dan Tuhan seumur hidup. Pastikan Anda dan pasangan memiliki komimen yang sama mengenai pernikahan. Jika tidak akan menjadi masalah dalam pernikahan Anda.
2. Tanggung jawab dalam pekerjaan rumah
Anda masih sangat tergantung pada orangtua atau pembantu rumah tangga dalam mengurus diri? Kurangi kebiasaan ini jika Anda ingin menikah. Saat menikah bukan hanya Anda harus bertanggung jawab pada diri sendiri, tapi juga pasangan. Walau terkesan kecil, namun saat berumah tangga, hal sepele seperti cucian piring bisa menjadi bibit pertengkaran.
3. Mengendalikan emosi
Pengendalian emosi merupakan hal utama saat mempersiapkan pernikahan. Jangan sampai emosi Anda yang mudah tersulut membuat pernikahan berantakan. Emosi yang tak terkendali sering kali membuat seseorang mudah mengatakan “pisah” atau “cerai”. Jika hal itu terjadi, hanya penyesalan yang akan dirasakan.
4. Pengelolaan keuangan
Keuangan akan menjadi sumber pertengkaran saat menikah nanti. Tak ada salahnya untuk berdiskusi dengan calon Anda mengenai hal ini. Buatlah kesepakatan bagaimana cara kalian mengelola pendapatan nantinya. Dengan hal ini kemungkinan Anda dan pasangan bersitegang karena uang menjadi kecil.
5. Menjalin hubungan dengan keluarga besar
Saat menikah Anda tidak hanya harus siap berhubungan dengan pasangan saja, namun juga seluruh keluarga besar. Jika saat berpacaran Anda merasa tak cocok dengan keluarganya, hal itu akan menjadi masalah saat menikah nanti. Pastikan juga hubungan Anda dan keluarga besar pasangan lancar dan akur sebelum memutuskan menikah.
6. Menemukan 'bahasa cinta' yang berbeda
Romantisme masa pacaran dengan menikah akan berbeda. Saat menikah, keintiman mungkin tak lagi menjadi santapan sehari-hari. Oleh karena itu, Anda dan pasangan harus lebih saling mengenal lebih jauh sehingga tak ada prasangka buruk yang timbul saat berumah tangga nanti.
Jadi, apakah Anda sudah siap menikah?
http://id.she.yahoo.com
1. Definisikan komitmen
Anda dan pasangan harus menyadari, pernikahan bukanlah ikatan komitmen selama satu-dua bulan saja. Pernikahan adalah perjanjian antara Anda, pasangan dan Tuhan seumur hidup. Pastikan Anda dan pasangan memiliki komimen yang sama mengenai pernikahan. Jika tidak akan menjadi masalah dalam pernikahan Anda.
2. Tanggung jawab dalam pekerjaan rumah
Anda masih sangat tergantung pada orangtua atau pembantu rumah tangga dalam mengurus diri? Kurangi kebiasaan ini jika Anda ingin menikah. Saat menikah bukan hanya Anda harus bertanggung jawab pada diri sendiri, tapi juga pasangan. Walau terkesan kecil, namun saat berumah tangga, hal sepele seperti cucian piring bisa menjadi bibit pertengkaran.
3. Mengendalikan emosi
Pengendalian emosi merupakan hal utama saat mempersiapkan pernikahan. Jangan sampai emosi Anda yang mudah tersulut membuat pernikahan berantakan. Emosi yang tak terkendali sering kali membuat seseorang mudah mengatakan “pisah” atau “cerai”. Jika hal itu terjadi, hanya penyesalan yang akan dirasakan.
4. Pengelolaan keuangan
Keuangan akan menjadi sumber pertengkaran saat menikah nanti. Tak ada salahnya untuk berdiskusi dengan calon Anda mengenai hal ini. Buatlah kesepakatan bagaimana cara kalian mengelola pendapatan nantinya. Dengan hal ini kemungkinan Anda dan pasangan bersitegang karena uang menjadi kecil.
5. Menjalin hubungan dengan keluarga besar
Saat menikah Anda tidak hanya harus siap berhubungan dengan pasangan saja, namun juga seluruh keluarga besar. Jika saat berpacaran Anda merasa tak cocok dengan keluarganya, hal itu akan menjadi masalah saat menikah nanti. Pastikan juga hubungan Anda dan keluarga besar pasangan lancar dan akur sebelum memutuskan menikah.
6. Menemukan 'bahasa cinta' yang berbeda
Romantisme masa pacaran dengan menikah akan berbeda. Saat menikah, keintiman mungkin tak lagi menjadi santapan sehari-hari. Oleh karena itu, Anda dan pasangan harus lebih saling mengenal lebih jauh sehingga tak ada prasangka buruk yang timbul saat berumah tangga nanti.
Jadi, apakah Anda sudah siap menikah?
http://id.she.yahoo.com
Label:
Menikah
Lokasi:
Bandung, Indonesia
Langganan:
Komentar (Atom)



