Jakarta - Kaleng-kaleng kerupuk tiba-tiba "mejeng" di
salah satu lorong bagian belakang lantai dasar Hotel Grandkemang,
Jakarta. Benda-benda itu tampak anggun di atas papan-papan bertiang
tinggi, berkelompok dalam beberapa bagian terpisah. Ada yang kosong, ada
pula yang benar-benar ada kerupuknya.
Yang jelas, semua kaleng
yang mejeng itu sudah tak polos lagi. Di sisi-sisinya telah dilukis,
atau dihias dengan gambar-gambar potret diri. Seniman Ayang Kalake
memanfaatkan dinding-dinding kaleng kerupuk itu sebagai kanvas ataupun
media untuk mencetak gambar.
Karya bertajuk 'Kaleng Kerupuk' itu
memang tidak kebetulan berada di situ. Pemandangan tersebut merupakan
bagian dari gelaran Indonesian Cotemporary Art and Desaign (Icad) 2012
yang akan berlangsung hingga 15 Juni. Tak kurang dari 37 seniman ikut
ambil bagian dalam pameran tahunan yang telah memasuki perhelatan ke-3
itu.
Ada sejumlah kemajuan, antara lain dari segi jumlah seniman
yang tampil, yang melonjak dua kali lipat lebih dibandingkan tahun lalu.
Tahun ini mengusung tema 'GEN i Us', Icad masih setia dengan konsepnya
mempertemukan dunia seni rupa dengan desain, industri hotel, teknologi
dan hiburan.
Tidak semuanya merupakan karya baru, memang, yang
hadir dalam Icad kali ini. Instalasi berjudul 'Education' karya
perancang busana Oscar Lawalata misalnya, sebelumnya telah tampil di
pameran 'Dysfashional' di Galeri Nasional, Mei tahun lalu. Dalam
instalasi ini, Oscar menata kursi-kursi layaknya sebuah ruang kelas.
Namun, kursi-kursi kayu mungil itu telah dibungkus dengan aneka kain
batik, tenun dan ikat.
Karya-karya yang tampil di Icad 2012
dipajang dari kolam di depan hotel, lobi, lorong belakang lantai dasar,
hingga sebagian lantai dua. Perupa Hanafi menampilkan instalasi ukuran
besar yang terbentang di depan lobi pintu masuk samping. Karya berjudul
'Original:Fake' itu menampilkan cetak sidik jari yang dihamparkan dalam
sebidang plat balok persegi panjang.
Berdampingan dengan itu adalah 'Constellation Neverland' karya Adi Panuntun, sebuah instalasi dome yang didalamnya terdapat video mapping. Memasuki dome
itu, kita berasa masuk ke dunia lain, sebuah negeri bersalju yang
mungkin menjadi obsesi dan fantasi bagi warga dari negeri yang hanya
mengenal musim hujan dan kemarau.
Adi Panuntun bukan nama baru di
pergelaran Icad. Tahun lalu ia juga memamerkan karyanya. Hardiman
Radjab tahun ini juga muncul kembali dengan ciri khasnya yang
memanfaatkan benda-benda sekitar yang familiar. Kali ini, ia menampilkan
serangkaian karyanya lewat koper. Benda yang biasa dipakai untuk
bepergian itu, di tangan Hardiman berubah menjadi metafora yang
menyindir situasi sosial-politik aktual negeri ini.
Mempertemukan
seni rupa dengan desain memang bukan hal baru dalam pameran seni rupa
di Tanah Air. Bahkan, kecenderungan itu memang telah menjadi tren
beberapa tahun belakangan. Yang beda dari Icad, pameran tersebut hadir
di hotel, dan bukan galeri seni, sehingga memiliki kemungkinan yang
lebih besar untuk menjangkau dan ditengok publik yang lebih luas. detik.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar